Dia ‘Tidak’ Datang
Tidak baik memang menaruh cinta terlalu dalam. Khususnya, ketika itu adalah untuk seseorang yang sudah melepaskan diri dari genggaman.
Namun, aku tidak ingin munafik dengan berkata kalau aku sudah berhenti mencintainya.
Setelah puluhan pak rokok dan ratusan gelas kopi hitam di malam-malam temaram, aku baru sadar— semenjak kepergian wanita cantik itu beberapa bulan lalu, waktuku berubah beku. Tidak ada yang menarik dari dunia setelah ia tak lagi menghadirkan tawa.
Kemarin malam aku termangu.
Cangkir-cangkir kopi yang menyeru, asap yang bersarang di dalam paru-paru, juga tatapan foto pertama yang kami ambil di awal bulan Agustus tahun lalu seketika membuatku membulatkan tekat— aku harus memperbaiki hubungan dengan ia yang pernah menjadi wanitaku.
"Eh, siang ini kita nonton, yuk?"
Pagi tadi aku mengirimkan pesan itu dengan malu-malu, yang langsung ia balas dengan kata-kata khas layaknya dulu. Hangat, manis, dan masih ceria seperti pertama aku mengenalnya.
Kemudian dirinya setuju.
Film yang akan kami tonton mulai pada pukul 14:25, tetapi aku sudah berada di depan pintu bioskop semenjak jarum pendek di dalam jam tanganku masih menunjuk ke angka satu.
Terburu-buru? Ah tentu tidak. Aku hanya tak sabar menanti netranya memandang teduh ke arahku yang kembali yakin kalau ia adalah sebaik-baiknya tempat untuk menetap.
Di sela-sela penantianku, aku teringat kalau lorong bioskop ini pernah menjadi salah satu tempat spesial kami.
Saat pertama kugandeng tangannya erat setelah keluar dari ruang bioskop, ia sempat bilang kalau denganku adalah kali pertama ia merasa nyaman menonton film sambil menyandarkan kepalanya pada pundak seseorang.
Aku juga ingat pernah salah memperkirakan waktu hingga datang tepat beberapa menit sebelum muncul suara, "pertunjukan film di teater lima segera dimulai," dari pengeras suara di sudut ruang tempat mengantri tiket.
Namun waktu itu ia tidak marah, ia hanya mencubit lenganku pelan dan menggandengku masuk ke dalam ruangan berisi sekian puluh orang dengan senyum terpampang.
Semua memori yang sempat terekam manis mengantri, kemudian secara rapih berurutan hadir dan memelukku dengan nyaman untuk memberitahukan satu hal,
aku dan dia layaknya lorong ramai tempat menunggu film-film menarik yang telah siap memanjakan setiap pasang mata yang telah menunggu seiring waktu berdentang.
Memang banyak warna dan suasana yang hadir di sana. Namun pada akhirnya, lorong ini akan berakhir sama. Dimakan gelap dan hilang, saat tak ada lagi ramai yang percaya kalau di dalam ruangan masih akan ada film yang tayang.
Namun, aku tidak ingin munafik dengan berkata kalau aku sudah berhenti mencintainya.
Setelah puluhan pak rokok dan ratusan gelas kopi hitam di malam-malam temaram, aku baru sadar— semenjak kepergian wanita cantik itu beberapa bulan lalu, waktuku berubah beku. Tidak ada yang menarik dari dunia setelah ia tak lagi menghadirkan tawa.
Kemarin malam aku termangu.
Cangkir-cangkir kopi yang menyeru, asap yang bersarang di dalam paru-paru, juga tatapan foto pertama yang kami ambil di awal bulan Agustus tahun lalu seketika membuatku membulatkan tekat— aku harus memperbaiki hubungan dengan ia yang pernah menjadi wanitaku.
"Eh, siang ini kita nonton, yuk?"
Pagi tadi aku mengirimkan pesan itu dengan malu-malu, yang langsung ia balas dengan kata-kata khas layaknya dulu. Hangat, manis, dan masih ceria seperti pertama aku mengenalnya.
Kemudian dirinya setuju.
Film yang akan kami tonton mulai pada pukul 14:25, tetapi aku sudah berada di depan pintu bioskop semenjak jarum pendek di dalam jam tanganku masih menunjuk ke angka satu.
Terburu-buru? Ah tentu tidak. Aku hanya tak sabar menanti netranya memandang teduh ke arahku yang kembali yakin kalau ia adalah sebaik-baiknya tempat untuk menetap.
Di sela-sela penantianku, aku teringat kalau lorong bioskop ini pernah menjadi salah satu tempat spesial kami.
Saat pertama kugandeng tangannya erat setelah keluar dari ruang bioskop, ia sempat bilang kalau denganku adalah kali pertama ia merasa nyaman menonton film sambil menyandarkan kepalanya pada pundak seseorang.
Aku juga ingat pernah salah memperkirakan waktu hingga datang tepat beberapa menit sebelum muncul suara, "pertunjukan film di teater lima segera dimulai," dari pengeras suara di sudut ruang tempat mengantri tiket.
Namun waktu itu ia tidak marah, ia hanya mencubit lenganku pelan dan menggandengku masuk ke dalam ruangan berisi sekian puluh orang dengan senyum terpampang.
Semua memori yang sempat terekam manis mengantri, kemudian secara rapih berurutan hadir dan memelukku dengan nyaman untuk memberitahukan satu hal,
aku dan dia layaknya lorong ramai tempat menunggu film-film menarik yang telah siap memanjakan setiap pasang mata yang telah menunggu seiring waktu berdentang.
Memang banyak warna dan suasana yang hadir di sana. Namun pada akhirnya, lorong ini akan berakhir sama. Dimakan gelap dan hilang, saat tak ada lagi ramai yang percaya kalau di dalam ruangan masih akan ada film yang tayang.
Comments
Post a Comment