Terjerat
Aku terjerat di satu hati yang menghimpun beberapa hati di dalamnya.
Hingga suatu ketika, aku mencoba tuk pergi, tapi tak pandai.
Dulu, aku sering sekali berlabuh tepat di hatinya.
Berlayar dengan lancar tanpa adanya bencana besar.
Tapi kini, ada saja rintangan yang menyergap saat hati ini mulai berlabuh lagi.
Badai yang besar, karang yang tiba-tiba bermunculan, ombak yang menjulang tinggi, lampu isyarat yang selalu menyurat akan adanya bencana hebat.
Ya, aku mencoba tabah.
Tatkala hati ini karam dan tenggelam oleh hatimu yang kian muram.
Lantas,
Kini,
Hingga suatu ketika, aku mencoba tuk pergi, tapi tak pandai.
Dulu, aku sering sekali berlabuh tepat di hatinya.
Berlayar dengan lancar tanpa adanya bencana besar.
Tapi kini, ada saja rintangan yang menyergap saat hati ini mulai berlabuh lagi.
Badai yang besar, karang yang tiba-tiba bermunculan, ombak yang menjulang tinggi, lampu isyarat yang selalu menyurat akan adanya bencana hebat.
Ya, aku mencoba tabah.
Tatkala hati ini karam dan tenggelam oleh hatimu yang kian muram.
Lantas,
Kini,
Amat sangat berterima kasih atas nestapa yang telah kau agihkan, atas luka yang telah ribuan kali kau sayat, hingga raga ini hendak menjadi mayat.
Comments
Post a Comment