Posts

Showing posts from December, 2018

S i r n a

Ada yang hilang saat kamu melangkah untuk pulang ke tempat paling tenang bersama rasa senang. Ada yang sirna, kala seyummu tak menyapa menghentikan bahagia kala aku melihatnya Ada yang gusar, saat kau coba pijaki hingar juga kau cumbu bingar sampai membawamu jauh dari nalar. Ada yang melanda saat kamu tak ada duka cita turut menguasai rasa ketika kamu pergi dari dunia nyata Ada aku yang menunggu ditemani lagu kesukaanmu juga pertanyaan risau dari ibu Kemana anakku berlalu? apakah kalian sedang bertemu? ataukah kalian sedang beradu pada masalah yang menimpa hatimu? — aku tak tahu, bu hingga tiba saatnya aku melihat anakmu juga tuan penguasa hatiku dalam keadaan membisu terbujur kaku sebab anakmu terlalu mencitai hobinya dalam menerjang waktu hingga aku tak lagi sanggup menahan ia agar tidak pergi meninggalkan ku.

Maybe

Ada yang bilang bahwa lebih baik mendengar kejujuran tapi menyakitkan dibanding kebohongan tapi membuat kita melayang. Mungkin tidak banyak yang mengerti bahwasannya tidak semua orang bisa menerima kejujuran yang kadang pahit untuk didengar. Tidak semua orang punya ketegaran hati yang tinggi dan dapat mendengar perkataan orang dengan dada lebar. Aku, misalnya. Ada kalanya aku memang membutuhkan kejujuran mereka ketika menilaiku sebagai seorang teman yang banyak kurang. Dalam beberapa kesempatan, aku masih bisa menerima dan menjadikannya sebagai pembelajaran. Tapi itu bukan berarti di setiap momen ketika kami berbincang, aku tak masalah mendengar perkataan pahit mereka yang kadang begitu menyinggung, sedang mereka mengalibikannya sebagai gurauan. Ada kalanya aku tersakiti dengan realita. Aku tidak mau mendengar apa-apa yang justru membuat keadaanku semakin kalut dengan perkataan mereka. Beberapa orang bilang aku terlalu perasa. Tapi mau bagaimana pun juga, aku memang begini adan...

Melintasi waktu

ZMari kuajak kamu melintasi waktu, menyambut arunika hingga swastamita tiba. Menghabiskan hari dengan bahagia dan senja sebagai saksi bisunya. Mari kuajak kamu melintasi waktu, menyambut arunika hingga swastamita tiba. Bercengkrama tentang hari-hari yang membuatmu bahagia atau terluka. Mari kuajak kamu melintasi waktu, menyambut arunika hingga swastamita tiba. Kita berdua saja, jangan ada yang ketiga. Mari kuajak kamu melintasi waktu, menyambut arunika hingga swastamita tiba. Maukah kamu kuajak bersama?

Pulang

Pada setiap pulang, ada rindu yang berusaha direda. Meski sebenarnya, ia tidak pernah benar-benar lenyap, karena pada setiap temu justru ada rindu yang akan terus bertumbuh. Tanpa henti, tanpa tapi. Tidak mengampuni insan seperti kita yang terpisah jarak ratusan kilometer dan punya kesempatan bertemu yang sedikit. Seolah tertawa jahat pada malam-malam di mana rindu lah yang mengamuk, pada badai-badai ego ingin bertemu yang bekecamuk. Pada setiap pulang, ada serpihan hati yang dititipkan kepadamu. Berharap kamu bisa menjaganya dengan baik dan tidak hilang ditelan kenyataan. Kadang serpihan ini fana hingga kamu bahkan tidak percaya ia ada. Padahal pada setiap jengkalnya ada harapan dan mimpi yang dibangun dan hanya diberikan pada satu ruang. Menjadikannya bertempu pada satu poros, yang akan hancur jika porosnya keluar orbit. Kita melakukannya dengan sadar dan senang hati, seperti anak-anak yang bermain hujan sore-sore padahal tahu jika pulang akan dimarahi ibu di rumah dan dipaksa mand...

Dont give up

Kamu yang sedang membaca unggahan-unggahan di linimasa untuk mencari kutipan yang mewakili perasaan dan sesuai dengan keadaanmu, atau kamu yang sering mendengarkan satu lagu sampai tak terhitung sudah berapa kali kamu ulang karena liriknya sesuai dengan kondisi yang sedang kamu hadapi. Sedang sendirian dan lelah bukan kepalang. Entah karena beban pendidikan, atau pekerjaan, atau kondisi keluarga yang tidak sesuai harapan. Tidak perlu merasa tidak berharga. Semua orang memang punya waktu untuk ditempa masalah supaya makin bersinar dalam menghadapi yang akan datang. Sekecil apapun, jangan berhenti berusaha. Suatu hari nanti kamu akan bersyukur karena tidak menyerah.

Jadilah cahaya

Aku tahu sangat sulit untuk tetap lemah lembut di dunia yang memaksa kita untuk keras ini. Tapi kumohon bertahanlah. Jangan gadai rasa sabar hanya karena amarah yang sempat berkorbar sebentar. Karena mungkin kamu tidak tahu, anak yang tadi tertawa terlalu keras saat kamu melakukan sedikit kesalahan adalah dia yang terus menerus di rumahnya mendapatkan perlakuan kasar. Di sana dia jangankan bisa tertawa, berpendapat saja dianggap telah melanggar. Bukan saja tubuhnya yang sering dicubit, bahkan pipinya mungkin saja selalu menjadi sasaran empuk untuk ditampar. Dia tidak bermaksud mengejekmu seserius itu, dia hanya ingin mendapatkan rasa senang sebentar. Perempuan yang kamu ejek murahan lantaran punya teman partner bercinta tanpa status lewat sosial media, bisa jadi adalah orang yang tak pernah tahu rasanya dicinta lawan jenis di dekatnya. Dulu dia kerap diejek tak menarik, karena wajahnya berbintik atau karena dadanya tak seberapa berisi dan tubuhnya yang punya lemak di sana-sini. D...

Coklat

Ada yang diam-diam terduduk lesu di kamar setelah seharian berusaha menahan tegar akibat ejekan orang. Ada yang diam-diam menangis tanpa suara di pojok ruangan dengan derai air mata sebanyak perlakuan tak adil yang ia dapatkan. Ada yang diam-diam menyimpan dendam setelah namanya dikambinghitamkan dalam permasalahan yang ia tidak ikutan. Ada yang diam-diam menyimpan benda tajam di dalam tas, entah gunting, entah pisau kecil, sebagai antisipasi ketika sewaktu-waktu ia merasa penat dengan kehidupan di semesta dan segala isinya. Lalu ditancapkannya benda itu jauh ke dalam jiwanya, untuk menemukan kedamaian abadi. Jadi, jika tidak bisa mengerti, tolong jangan buat sakit hati.

Terjerat

Aku terjerat di satu hati yang menghimpun beberapa hati di dalamnya. Hingga suatu ketika, aku mencoba tuk pergi, tapi tak pandai. Dulu, aku sering sekali berlabuh tepat di hatinya. Berlayar dengan lancar tanpa adanya bencana besar. Tapi kini, ada saja rintangan yang menyergap saat hati ini mulai berlabuh lagi. Badai yang besar, karang yang tiba-tiba bermunculan, ombak yang menjulang tinggi, lampu isyarat yang selalu menyurat akan adanya bencana hebat. Ya, aku mencoba tabah.  Tatkala hati ini karam dan tenggelam oleh hatimu yang kian muram. Lantas, Kini, Amat sangat berterima kasih atas nestapa yang telah kau agihkan, atas luka yang telah ribuan kali kau sayat, hingga raga ini hendak menjadi mayat.