KAMU yang kuterka begitu lama
Seringkali kutangisi kau, yang belum sempat kugapai
Bahkan ditakdirkan semesta pun belum
Aku mengirim doa yang kosong alamatnya
Seseorang yang kuterka-terka di kepala
yang kuyakini dalam hati sebagai hal yang kusayangi, kucintai, bahkan rela jadi mati
Tapi ia
masih samar keberadaannya, sedang sudah kukarang-karang kesetiaannya
seakan-akan dijadwalkan tiba begitu lama
ketika nanti aku di puncak putus asa
dan lagu-lagu melankolis kian mengiris
yang menderaskan tangis
Wahai siapa saja ia,
yang kusemogakan untuk mengutuhkan
yang menggenapi ketidaksempurnaanku
yang akan dengan rela menyerahkan apa saja begitu aku juga
Segeralah penuhi kekosongan yang kerontang di diriku
yang bermusim betapa gersang
Lepaskan aku segera dari dera tak bahagia
Bahkan ditakdirkan semesta pun belum
Aku mengirim doa yang kosong alamatnya
Seseorang yang kuterka-terka di kepala
yang kuyakini dalam hati sebagai hal yang kusayangi, kucintai, bahkan rela jadi mati
Tapi ia
masih samar keberadaannya, sedang sudah kukarang-karang kesetiaannya
seakan-akan dijadwalkan tiba begitu lama
ketika nanti aku di puncak putus asa
dan lagu-lagu melankolis kian mengiris
yang menderaskan tangis
Wahai siapa saja ia,
yang kusemogakan untuk mengutuhkan
yang menggenapi ketidaksempurnaanku
yang akan dengan rela menyerahkan apa saja begitu aku juga
Segeralah penuhi kekosongan yang kerontang di diriku
yang bermusim betapa gersang
Lepaskan aku segera dari dera tak bahagia
Comments
Post a Comment